Tuesday, December 20, 2011

{bingkai.Nusantara}

Merealisasikan sebuah ide tidaklah gampang, kadang ide itu hanya menguap dan terbang entah kemana. Saat itu sehabis lebaran sekitar dipenghujung tahun 2010, Saya, Adit, Firman dan Opang bertemu untuk bersilaturahim sekalian berhalal bihalal boleh dibilang seperti itu.

Obrolan ngalor ngidul membahas project-project apa yang akan dilakukan diawal tahun nanti. Tiba-tiba Adit mengeluarkan unek-uneknya. Dia ingin membuat sebuah project yang nantinya bisa menjadi sebuah warisan dan kenangan-kenangan buat sebuah keluarga.

"gw pengen bikin foto keluarga, coba bayangkan apakah mereka terpikir untuk bikin foto keluarga? buat makan aja susah sedangkan foto itu menjadi sebuah jembatan dari generasi ke generasi, warisan yang tak ternilai" kata Adit sambil membenarkan ikatan rambutnya yang memang panjang itu.

Ide itu memang sudah lama berada dikepala pria-gempal-berkulit-sawo-matang-berambut-panjang ini tapi belum terealisasi dan meminta bantuan dari teman-teman Wiken Tanpa ke Mall (WTM). Mendengar ide itu Opang yang sedang sibuk makanpun akhirnya bersemangat dan ingin merealisasikan ide tersebut.

Butuh waktu hampir berbulan-bulan untuk merealisasikan ide itu. Akhirnya dengan kekuatan dan kebulatan tekad sebuah pilot project pun kita gelar. Gunung Padang di Cianjur yang menjadi target kita semua.

25 Maret 2011, Jumat sehabis pulang kantor dikomandani oleh Umi Akhdadiyah dibantu beberapa orang teman (bolang, hanum, bukun, sam, dll) berangkatlah mereka membawa semua perlengkapan ala kadarnya. Sayangnya saya tidak bisa ikut serta. Saat itu ikut serta juga kru wartawan SCTV yang memang ingin sekali meliput kegiatan WTM dan kebetulan kami sedang melakukan kegiatan ini akhirnya kami mengizinkan mereka untuk ikut serta.



Diluar dugaan ternyata pilot project ini berhasil dan sukses. Penduduk desa sangat antusias, "bayangin pul, nenek-nenek dan kakek-kakek pagi sekali mereka rela turun gunung dengan kondisi jalan yang becek sehabis hujan dengan napasnya yang tersengal-sengal dateng buat foto, bikin gw nangis" kata umi.

Setelah itu kamipun semakin bersemangat untuk membuat {bingkai.Nusantara} ini menjadi lebih besar dan bisa menyatukan keluarga senusantara. Kamipun berniat ingin membuat acara ini untuk warga di ibukota tapi sayang kendala sangat berat.

Sayapun berpendapat jika ingin membuat ini di Jakarta target yang harus dicari beda dan sayapun mengusulkan untuk membuat foto keluarga buat anak-anak di sekolah buat anak yang tidak mampu. Gubuk IPPA terpilih setelah kami ditolak oleh beberapa rumah belajar karena beberapa hal. Pertemuan Mamet dengan Mbak Ibet bak gayung bersambut. Mbak Ibet kebetulan menjadi pengasuh buat anak-anak Rawamalang ini setuju dengan apa yang teman-teman WTM tawarkan.

18 Desember 2011 menjadi hari yang kami tentukan. Sekitar 20 orang volunteer mulai dari juru foto, tukang edit, tukang make up sampai dengan para pendongeng sudah siap untuk membantu.

Alhamdulillah puji tuhan acara berlangsung sukses. Cuaca cerah yang cenderung panas seperti isyarat Tuhanpun ikut senang. Keceriaan anak-anak Rawamalang terpancar. Dari awal kami datang mereka bernyanyi dan bergembira. Wargapun sangat antusias datang dengan pakaian terbaik mereka, ada yang berbatik kembar sampai pakaian-pakaian sehari mereka. Persamaannya adalah Senyum Ceria mereka. Kamipun ikut senang jadinya.

Semoga {bingkai.Nusantara} akan terus ada membawa kebahagiaan keluarga karena keluarga adalah segalanya. Terimakasih.
Foto bareng Volunteer dan anak-anak Gubuk IPPA (foto oleh: Ahmad Syukaery)

0 comments: